Kisah ini ku tuliskan bukan bermaksud untuk merendahkan atau menyepelehkan sekelompok orang, dan mengangkat golongan tertentu. Sungguh aku merasa ada perbedaan yang sangat signifikan antara kehidupan aku ketika menjadi pendidik empat stengah tahun lamanya di SMK Pertanian Teluk Hading Leworahang.
Tiga stengah tahun bergelut dengan kerasnya hidup di kota Makassar. Bertahan walau sempat menyerah, hanya demi mendapatkan Toga dengan gelar Sarjana kehutanan, yah… S.Hut, gelar yang disematkan di belakang nama ku.
Selama di kota itu, aku sungguh merasakan getirnya hidup sebagai minoritas, ditengah kalangan mayoritas (dalam hal keyakinan). Kadang ketika hari raya besar keagamaannya, kosan ku menjadi sasaran muaranya petasan. Ibarat roket yang meluncur deras dari luar pagar kosan, menerobos masuk dari pintu depan dan akhirnya meletup di belakang dekat kamar mandi dan WC.
Meski demikian, ada beberapa orang mudahnya yang baik. Selama di kosanku, ada banyak ‘anak lorong’ Rapocini lorong 9 yang menjadi teman baikku. Mereka begitu baik. Ketika aku kekurangan makanan dan bahkan uang, mereka tidak sungkan memberikan bantuan.
Sampai menamatkan study ku pada tahun 2013, mereka masih tetap akrab, hingga terakhir aku pulang, mereka mengantar kepergian ku sampai ke palabuhan. Sungguh mereka orang- orang baik.
Pada akhir tahun 2013, aku sempat berkelana ke Jakarta. Ketika di Jakarta, sangat berbeda dengan kota Daeng, julukan untuk kota Makassar. Orang-orang yang sibuk, tidak begitu peduli dan akrab dengan orang baru. Aku sempat mendegar kalimat ini : “Lu Lu, Gue gue.”
Setelah 2 minggu di Jakarta, Aku bergerak sedikit ke kota Hujan Bogor, yang lebih banyak orang Sunda nya di sana. Begitu lembut, ramah, aku terkagum dengan kelemah lembutan ‘anak lorongnya’. Luar biasa sangat santun.
Malam terakhir di kota Bogor, aku di telepon oleh Ibu Fera, Guru matematika sekaligus Wakil Kepala Sekolah SMK Teluk Hading Leworahang. Beliau mengatakan bahwa di SMK tersebut sedang kekurangan Guru Kejuruan Pertanian.
Tanpa berpikir panjang, ku putuskan untuk kembali dan mengabdikan diri sebagai pendidik di tanah sendiri, daripada merantau sampai sejauh ini. Akhirnya ku tumpangi Bus dari Bogor ke jakarta dan selanjutnya berlayar menuju Flores Timur dengan Kapal laut. Di kota metropolitan ini, aku tidak begitu sulit berpetualang sesuai selerah. Karena ada banyak sanak saudara yang sudah lama hidup di kota besar ini.
Hari jumad malam aku tibah di rumah ku. Sabtu pagi langsung ke rumah Bapak Lorens Kia Kelen, untuk mengantar lamaran pekerjaan. Beliau begitu baik. Guru terbaikku, kepala sekolah yang bijaksana memimpin sejak pertama kali Sekolah pertanian itu didirikan. Banyak ilmu yang beliau bagikan, tentang bagaimana memanusiakan manusia.
Hari Senin pertama dan untuk pertama kalinya aku di sapah Pak guru oleh Siswa/i ku. Pemandangan yang tak pernah terlintas dalam benak ku sebelumnya tentang lembaga pendidikan ini.
Kondisi jalan yang hanya tanah padat ditutupi kerikil kecil dengan aspal yang jarang sekali ditemukan disepanjang jalan itu, sungguh bukan hal yang luar biasa bagi ku. Debuh yang berterbangan ketika roda kendaraan melintas itu hal biasa bagi ku.
dengan langkah sedikit ragu, ku masuki halaman sekolah yang memang tidak datar dengan beberapa batu besar di sekitarnya, duduk diatasnya beberapa Siswi yang menyalamiku dengan penuh ramah. Dari balik rerumputan ku melihat beberapa siswa yang sedang sibuk mengurusi tanaman hortikultura yang mereka tanam sendiri.
Selesai perkenalan dengan teman- teman guruku di ruang guru, Pak Andy seniorku guru kejuruan pertanian, mengajakku untuk memperkenalkan diri dengan Siswa-siswi setelah doa pagi.
Tidak ada yang istimewah juga suasana doanya. Setelah bel dibunyikan sebagai isyarat bahwa doa pagi segera dimulai, aku keluar dari ruang guru, mereka telah berbaris rapi mengambil sikap berdoa.
Untuk pertama kalinya ku rasakan bagaimana menjadi Guguhan dan panutan siswa- siswi. Dan pertama kali pula bagi ku, siswa putera yang tingginya melebihi tinggiku, yang hampir ku sapa kawan, menjabat tanganku kemudian menciumi tanganku. Ku merasa ada yang aneh. Budaya ini yang tidak pernah ku perbuat selama aku masih berstatus Siswa dan mahasiswa.
Sungguh aku sangat dihargai oleh mereka siswa-siswi ku. Hari-hari berlalu, aku bahagia dengan profesiku, dan didukung oleh perilaku siswa-siswi ku yang tak banyak membuat pening kepala.
Aku tahu mereka, ku kenali masing-masing mereka dengan sangat baik. Karakter masing-masing mereka ku jadikan jurus ampuh untuk membimbing, melatih, membina mereka dengan penuh sabar. Aku begitu dihargai oleh mereka. Ketika dalam lingkungan sekolah sapaan ‘Pak’ tak terlupakan oleh mereka. Tapi ketika diluar dari jam sekolah, tak sungkan mereka menyapaku dengan Kakak. Ketika bertemu mereka dimanapun itu tempatnya, pasti mereka mendekat dan menyalami serta mencium tanganku.
Aku sangat bangga dengan perilaku terpuji mereka anak-anak dan sekaligus adik-adik ku.
Empat setengah tahun lamanya ku abdikan diri di lembaga pendidikan itu. Hanya karena tergiur dengan pekerjaan sebagai Pegawai Negeri Sipil, akhirnya kuputuskan untuk mengundurkan diri, dan pergi ke Sumatera tepatnya di Riau untuk mengikuti tes PNS di sana pada tahun 2018.
Orang- orang di Riau juga memperlakukan orang luar dengan sangat ramah. Ada begitu banyak orang FLOBAMORA di sana, yang sudah menjadi pribumi. Ada banyak tempat yang ku datangi dan ku dapatkan keramah tamahan.
Ku jalani tes PNS bersama semua peserta yang datang dari segala penjuru Nusantara. Mereka baik dan ramah. Terbaik adalah saudara seiman ku dari Batak. Orang- orang super baik yang ku kenal. Namun pada hasil ujianku pada waktu itu, belum dapat meloloskanku memakai seragam keki sampai hari ini.
Setelah mengetahui hasil tes ku dan aku dinyatakan belum lulus, ku putuskan untuk bekerja terlebih dahulu pada sebuah perusahaan Pengawasan Lahan kehutanan yang di pimpin oleh putera asli NTT tepatnya dari Maumere. Pikirku, daripada pulang ke kampung halaman dan menjadi pengangguran di sana, sebaiknya aku bekerja mencari nafkah disini.
Namun pada suatu hari, Bapak Yos Watoutan menghubungi melalui Telepon, beliau memintaku untuk menjadi seorang Operator yang mengurusi laporan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS), di lembaga pendidikan yang tak lain adalah Almamaterku SMPK Santo Isidorus Lewotala.
“Siap…” jawabku di ujung percakapan kami. Sungguh hidup sendiri dan terpisah dari Isteri dan anakku yang pada waktu itu berusia 6 bulan, sangat membuat hati tak kuasa menahan rindu. Berbedah dengan waktu itu, ketika aku berada di Jakarta dan Bogor, dengan status bujang, namun tetap merindukan ke dua orang tua.
Tiket pesawat telah ku booking, tujuan Riau Denpasar Bali, Sebelum menuju Maumere. Jam 11 malam aku tibah di Bandara Internasional Ngurah rai Denpasar Bali.
Pulau Dewata, Pulau yang dipenuhi para pelancong dari seluruh penjuru dunia, para pemburuh keindahan yang disuguhkan pulau ini. Malam terasa seperti siang. Tempat- tempat hiburan yang tak bedah dengan negara- negara barat. Sungguh tempat ini pasti menghabiskan isi dompet.
Tiga hari berada di pulau ini, namun terasa hanya sejam. Pantai kuta, tuguh kenangan bom Bali yang menelan banyak korban turis manca negara, yang semua nama mereka terpahat pada tuguh itu, telah ku singgahi. Di kiri dan kanan sepanjang jalan di depan tuguh itu, tempat- tempat hiburan menyuguhkan pemandangan yang pada waktu itu saya ibaratkan dengan malam pesta sambut baru di Lewotala. Penuh sesak manusia yang berjoget ria.
Dari Bali ku lanjutkan perjalananku menuju Maumere dengan pesawat terbang, dan akhirnya ke Lewotala.
Hari pertama masuk di lembaga pendidikan SMPK Santo Isidorus, aku membayangkan suasana Siswa- siswi yang mungkin sama dengan siswa-siswi ku di SMK dulu. Paling kurang mereka tidak kalah bersaing dalam urusan etika, tata krama, dan sopan santun, Karena kita masih dalam satu rumpun Lamaholot – Lewolema.
Aku terus menduga- duga tentang Siswa- siswi sekolah ini. Sekolah yang dari rahimnya aku lahir dan menjadi seperti sekarang ini. Sekolah yang sampai saat ini masih ku banggakan. Kalau bukan dari didikan tangan besi guruku pada waktu itu, mungkin aku tidak bisa sampai mendapatkan gelar sarjana.
Aku bersyukur mendapat rotan, bilah bambu, batang kayu sebesar jempol orang dewasa yang masih membekas di betis, dan gambaran telapak tangan di pipi, bekas kuku di telinga oleh mereka yang kini menjadi rekan- rekan guru ku. Iya, mereka Bapak dan Ibu Guru yang telah menjadikan aku layak di sebut manusia.
Kupijakan kaki pada anak tangga pertama pintu gerbang yang sebenarnya tidak asing lagi bagiku. Di sepanjang lorong depan kelas itu ada banyak sekali anak- anak yang berdiri, bercerita, tertawa lepas tanpa beban, tak sedikit juga yang mengenaliku, karena aku orang Lewotala.
Ku langkahkan kaki terus melewati lorong itu menuju ruang Kepapa Sekolah. Dalam hati ku berharap semoga saja ada yang menyapa atau memberi ucapan selamat pagi pada ku. Tanpa sadar aku sudah di depan pintu ruang Kepala sekolah. Kembali ku berpikir apakah karena saking berharapnya aku di sapah oleh anak- anak ini, hingga aku tak mendengar sedikitpun suara mereka memberi salam padaku?
Langkahku terhenti sejenak di depan pintu ruang kepala sekolah. Aku kembali menoleh melihat ada beberapa anak yang sedang duduk dengan santainya diatas bibir bak penampung air yang dulu pernah ku pakai untuk mengambil air membersihkan lantai ruang kelasku. Pikirku pada saat itu, daripada menunggu mereka memberi salam padaku, sebaiknya aku yang duluan menyalami mereka. “Selamat pagi No Ganteng…” sapahku sambil ku lebarkan senyumku.
Anak laki- laki yang duduk paling ujung, dan lebih dekat padaku saat itu, kebingungan menatapku. Dan itu tergambar jelas dari raut wajahnya. Dengan posisi duduknya yang bebas tanpa aturan duduk yang baik, kaki kiri yang disimpannya diatas bibir bak penampung air tempat ia duduk, sambil lututnya menjadi penopang lengan kirinya, lima detik berselang Ia menjawabku “Selamat Pagi Abang…” dengan nada suara yang sedikit tertawa.
Kini posisinya berbalik jadi aku yang kebingungan. Seribu tanya muncul dalam isi kepalaku seketika itu juga. Ketika berhadapan dengan Kepala sekolah pun, konsentrasiku terbagi. Sebagian rasaku masih terbebani dengan sang jagoan yang tadi menjawabku santai itu.
“Ahhhh… untuk apa juga kupikirkan itu, kan disini tugasku hanya menyelesaikan Laporan Bos, bukan untuk mengajari mereka etika yang baik”. Keputusasaan itu muncul tiba- tiba, karena aku tak mampu lagi berpikir panjang kesana.
Sampai dengan hari ini, kadang aku menikmati sendiri perasaan jengkel dalam hati karena ulah etika anak- anak ini. Kadang ku berpikir, seandainya mereka ini telah ada bersama- sama dengan ku pada tahun 2003 sampai 2005, mungkin sudah menjadi lebih manusia dari yang ini.
Pemandangan ini sungguh jauh berbedah dengan yang ku nikmati di Leworahang. Mereka siswa ku, postur tubuhnya yang yang tinggi tegap melebihiku, namun mereka tahu cara menghargai aku sebagai orang yang lebih tua dari mereka.
Mungkin ini adalah wujud nyata dari peribahasa “Lain Ladang, Lain Belalang”. Kadang marah, kadang ku bentak mereka, karena ribut, kadang karena sikap mereka yang cuek, ketemu di jalan saja, enggan melihat, apalagi menyapa? Apakah cuma aku saja yang merasa seperti ini? Ataukah aku saja yang terlalu banyak menuntut untuk dihargai dan dihormati dengan kapasitasku yang hanya sebagai Tenaga Pendidik?
Anak- anak ku, jika kalian membaca ini, maka baiklah sebagai hadiah dari upaya kalian membaca tulisanku ini, ku titipkan satu buah Puisi untukmu semua.
“Puisi ini Belum ku beri judul“
Aku bangga pada kalian
Aku bahagia menamai diriku guru
Setidaknya engkau adalah muridku
Setidaknya kalian adalah anak ke duaku
Tetapi...
Adakah kau bangga menjadi bagian dari keluarga besar lembaga ini?
Adakah kau bersyukur bahwa kau diperlakukan dengan sangat baik oleh mereka?
Kau haus ilmu, si tua itu menghapus dahagamu
Busung otakmu lapar akan pengetahuan si tua itu mengenyangkanmu
Sedangkan aku...
Dari tangan keriput itu kini aku bersyukur
Dari derap langkah yang sedikit gemetaran itu kini aku jadi manusia
Yah....Manusia yang lebih manusia
Kau bantah dia
Kau tak mengindahkan nasihat-nasihatnya
Ilmunya kau balas dengan ocehan yang mengiris hatinya
kau jadikan puisiku ini tak berjudul...
Karena aku terbungkam sejuta tanya mengapa
mungkinkah ini masalah waktu?
Mungkinkah ini buah dari moto dirimu 'nakal dulu baru sukses'?
Hei....
Sukses tak butuh nakal
Nakal tak selamanya sukses
Sudahi saja anak-anak ku
Akhiri saja tingkah itu
Jika kuncup bunga pukul sembilan itu dapat mekar tepat pada waktunya
maka baiklah kau pun mekar
Bersemilah hiasi pelataran rumah kita dengan menjadi anak yang baik
Kau mudah
Kau merubah diri
jauh sebelum terlambat