Ayahku Boboy Boy Kekuatan Tiga…

Seperti biasa, setelah selesai makan malam, Aku menonton film animasi ‘Upin & Ipin’ kesukaanku di televisi, ditemani Mama. Sebenarnya film animasi favoritku adalah BoBoy Boy. Tapi film itu sedang jedah iklan.

Sesekali aku melihat ke arah Ayahku, yang sedang sibuk memegang smartphone dengan kedua tangannya, sambil kedua ibu jari tangannya terlihat menekan layar smartphone itu. Aku penasaran. Dalam hati aku berpikir, pasti Ayah sedang bermain game di smartphone itu.

Dengan penuh rasa penasaran dalam hati, ku dekati ayah. Ternyata dugaanku salah. Ayah sedang sibuk mengedit video hasil rekamannya pada moment pemilihan Kepala Desa siang tadi di kantor desa. Aku kembali duduk dipangkuan mama untuk menonton televisi.

Lima menit berlalu setelah aku kembali duduk dipangkuan mama, tiba-tiba film animasi kesukaanku terhenti. Layar televisi itu mendadak gelap, hanya muncul tulisan di layar, ‘Decoder tidak dapat menerima signal’.

“Pa…” begitulah aku memanggil ayah

“Lihat ni. Televisi kita sudah rusak…” lanjutku. Televisi di rumahku memang sering seperti itu saat aku sedang menikmati hiburan film animasi kesukaanku. Kata ayah, nanti kalau ayah sudah dapat uang lebih, ayah akan membelikan antena parabola baru. Karena yang bermasalah bukan televisinya, tetapi parabola itu.

Ayah lalu meletakan smartphonenya. Kemudian ia beranjak keluar menuju antena parabola, bermaksud untuk membetulkan posisi antenanya. Namun usahanya sia-sia. Saking lamanya aku menunggu signal televisi kembali normal, kelopak mataku yang semakin berat saja hendak turun dan menutup bola mataku, tak mampu aku tahan lagi.

“Pa… ayo tidur. Ade sudah ngantuk” aku tahu, ayah pasti sangat lelah. Dan memang hari ini adalah hari yang melelahkan bagi ayah. Ketika bangun pagi ia ke kebun, dan pulang membawa beberapa umbi singkong untuk makanan ternak babi peliharaan. Sembari beristirahat menikmati segelas kopi, ia sambil bercerita banyak hal dengan seseorang yang pagi itu bertamu ke rumah kami. Belum sempat ayah sarapan pagi, aku diajaknya bersama mama, beranjak ke kantor desa untuk memberikan hak suaranya, dalam pemilihan kepala desa. Balik dari sana, ayah langsung beranjak pergi lagi ke kantor desa, kata ayah ia ingin mengabadikan moment pemilihan kepala desa dengan membuat video.

“Ade nagntuk? Besok baru Papa betulkan antena parabolanya ya…” kata ayah. Ayah kemudian menutup pintu depan, menggendong aku ke kamar. Seperti biasa sebelum tidur, ayah selalu mangajak aku dan mama untuk berdoa. Kata ayah, sebelum tidur kita harus berdoa, meminta Tuhan Yesus mengirimkan malaikat pengawal untuk menjaga kami sekeluarga sampai pagi.

“Pa, tadi ade sama Oma liat papa ikut pawai dengan motor. Kenapa papa tidak ajak aku ikut pawai juga?” Tanyaku.

Ayahku diam tak menjawab.

“Pa, tadi ade liat ada motor dibelakang ayah menarik tuas gas motornya, suara motornya besar, terus dia teriak-teriak tidak jelas”. Serentak ku lihat mata ayah terbuka. Sepertinya ia teringat akan suatu hal. Atau mungkin ia terkejut dengan ceritaku.

“Tidur dulu de… papa udah ngantuk.” Kata ayah. Sambil ia menyapu-nyapu belakangku.

“Pa, cerita…” kataku.

Aku saat hendak tidur, paling senang diceritakan beberapa cerita oleh ayah. Cerita tentang dewi padi, asal mula mata air Bama, asal-usul suku Limahekin, batu bedao, dan banyak lagi cerita-cerita rakyat yang ia ceritakan padaku.

“Cerita apa?” Tanya ayah.

“Cerita kepala desa”. Jawabku.

“Hmmmm…?” Ayah menggumam dengan nada bertanya.

Aku sungguh penasaran. Kenapa tadi dikantor desa ada begitu banyak orang berkumpul. Ada yang duduk berkelompok, ada yang berdiri bercerita dengan sangat seriusnya, ada beberapa orang yang berseragam mirip tentara, dengan senjatanya warna hitam digantung disamping pinggulnya. Kata ayah, itu bukan tentara atau polisi, tapi itu Hansip.

Ada juga sepupuhnya ayah yang mengenakan sarung tangan karet warna putih, duduk di samping pintu masuk, sambil memegang pena dan beberapa lembar kertas. di dalam ruangan itu ada beberapa kamar kecil, dan masih banyak lagi hal baru yang ku lihat siang tadi, di kantor desa itu. Sungguh aku sangat ingin tahu, apa yang dibuat orang-orang itu, dan apa hubungannya dengan kepala desa.

Sebagai anak yang masih duduk di bangku PAUD kelas A, aku sangat ingin tahu tentang semua hal yang aku lihat dan aku dengar.

“Kepala desa itu, kerja di kantor desa” ayah mulai bercerita.

“Kerja apa?” Tanyaku

“Banyak.” Kata ayah

“Mulai dari urus traktor gusur tanah buka jalan dan lorong desa, urus kita supaya dapat uang, urus anak PAUD yang suka cengeng, pokoknya semua diurus oleh kepala desa”. Ayah sengaja menjelaskan seperti itu, supaya aku cepat mengerti, dan tidak bertanya banyak lagi.

“Terus tadi di kantor desa itu buat apa? Kenapa ade sama mama masuk ke dalam ruangan orang kasih kertas ke mama?” Tanyaku ingin tahu.

“Oh itu…, di kertas itu ada foto orang yang mau jadi kepala desa. Terus papa sama mama disuruh memilih, siapa yang jadi kepala desa kita.” Kata ayah.

“Terus, papa pilih siapa?” Tanyaku.

“Hmmmm… siapa ya? Papa lupah ni.” Jawab ayah

“Ternyata kamu itu dibilang penyusup pa.” Itu suara mamaku. Aku kaget. Ku lihat ke arah mama.

“Penyusup itu apa?” Tanyaku kebingungan. Aku tahu, ayahku pasti mampu menjawab setiap pertanyaan yang ku tanyakan padanya. Dan memang demikian. Selama ini setiap kali aku bertanya tentang apapun itu, ayah selalu menjawabnya, dan aku sangat dengan mudah memahaminya.

“Iya, aku sudah tau itu dari awal. Dan aku tahu siapa dalangnya.” Jawab ayah, atas pernyataan mama barusan.

“Pa… penyusup itu apa?” Tanyaku sedikit memaksa.

“Hmmmm… penyusup itu seperti di film Boboy boy. Ketika Adu du hendak mencuri Bola kekuatan merah milik kapten, Adu du terlebih dahulu mengirim orang untuk mengintai dan mengecek kondisi kapal angkasa milik kaptennya Boboy boy. Penyusup itu akan mencari tahu dimana bola kekuatan itu disimpan, bagaimana cara membuka pintu ruangan penyimpan bola kekuatan itu, dan mengetahui kapan Boboy Boy, Gopal, Yaya, Ying, dan cigu kebenaran meninggalkan kapal angkasa. Semua itu dilakukan oleh penyusup, agar Adu du dengan mudah mengirim orang untuk merampas dan mencuri bola kekuatan milik kaptennya Boboy Boy”. Jawab ayah.

“Oh begitu…”

“Tapi kenapa papa juga dibilang penyusup?” Tanyaku lagi.

“Yah, begitulah. Karena ketika Adu du dan teman-temannya tidak mampu lagi mencuri bola kekuatan merah milik kapten, mereka kemudian menyebarkan cerita tidak benar tentang Boboy Boy. Mereka mengatakan bahwa Boboy Boy adalah hero (pahlawan) perusak. Boboy Boy lah yang ingin mencuri bola kekuatan merah itu dari tangan sang kapten. Ternyata yang memiliki hasrat demikian adalah si Adu du, sang penjahat itu” Jawab ayahku.

“Yes….Papa Boboy Boy kekuatan tiga…” aku kegirangan. Sambil bangkit dari tidur, aku melompat di kasur kapuk, dan aku memuji ayahku. Sontak kami bertigapun tertawa lepas.

“Pa cerita lagi…” pintaku.

“Nanti dulu. Besok malam baru cerita lagi ya. Papa sudah mengantuk. Dan ade akan benar-benar memahami ini semua, kalau ade nanti sudah sekolah di SMA, atau kuliah. Tapi kalau anak PAUD itu, harus belajar tulis A, B, C sampai Z, terus tulis 1,2,3, belajar baca, menggambar, belajar bercerita juga, supaya ikut lomba, juara satu dapat hadiah. Terus masuk SD, Sambut baru dan kita pesta” kata ayah.

“Ade tidak mau pesta sambut baru. Ade mau papa hadiah seragam Hansip dan tembaknya. Supaya ade pakai untuk pergi ke sekolah.” Jawabku.

“Oh… ya…? Mantap… hari minggu kita pergi beli seragam hansip.” Jawab ayahku sambil tersenyum.

“Pa… di sekolah ade itu, ibu ajar warna. Tapi ade kan sudah tahu semua warna, ade mau ibu ajar main game free fire”. Kini balik aku yang cerita tentang sekolahku.

“Oke oke. Nanti Papa bilang ke Ibu guru untuk ajar ade main game free fire. Sekarang tidur dulu ya…” sambil memeluk aku, ku lihat mata ayah mulai sayup, dan tertutup.

Inilah ceritaku.

Kata ayahku, hari Sabtu adalah hari yang sibuk. Iya, hanya hari sabtu itu saja. Hari sabtu sebelum-sebelumnya itu tidak. Hari yang penuh drama, hari yang menguras energi, hari yang sangat menguras emosional. Hari yang membuat orang yang mengerti, menjadi tidak mengerti. Hari dimana ayahku tahu, siapa yang benar-benar menghargainya sebagai Abang, dan siapa yang termakan isu, lalu berceloteh dibelakang panggung sandiwara.

Ayahku tegar. Karena suka nonton Boboy Boy kekuatan tiga bersamaku…

Tamat.

Lain Padang, Lain Belalang

Kisah ini ku tuliskan bukan bermaksud untuk merendahkan atau menyepelehkan sekelompok orang, dan mengangkat golongan tertentu. Sungguh aku merasa ada perbedaan yang sangat signifikan antara kehidupan aku ketika menjadi pendidik empat stengah tahun lamanya di SMK Pertanian Teluk Hading Leworahang.

Tiga stengah tahun bergelut dengan kerasnya hidup di kota Makassar. Bertahan walau sempat menyerah, hanya demi mendapatkan Toga dengan gelar Sarjana kehutanan, yah… S.Hut, gelar yang disematkan di belakang nama ku.

Selama di kota itu, aku sungguh merasakan getirnya hidup sebagai minoritas, ditengah kalangan mayoritas (dalam hal keyakinan). Kadang ketika hari raya besar keagamaannya, kosan ku menjadi sasaran muaranya petasan. Ibarat roket yang meluncur deras dari luar pagar kosan, menerobos masuk dari pintu depan dan akhirnya meletup di belakang dekat kamar mandi dan WC.

Meski demikian, ada beberapa orang mudahnya yang baik. Selama di kosanku, ada banyak ‘anak lorong’ Rapocini lorong 9 yang menjadi teman baikku. Mereka begitu baik. Ketika aku kekurangan makanan dan bahkan uang, mereka tidak sungkan memberikan bantuan.

Sampai menamatkan study ku pada tahun 2013, mereka masih tetap akrab, hingga terakhir aku pulang, mereka mengantar kepergian ku sampai ke palabuhan. Sungguh mereka orang- orang baik.

Pada akhir tahun 2013, aku sempat berkelana ke Jakarta. Ketika di Jakarta, sangat berbeda dengan kota Daeng, julukan untuk kota Makassar. Orang-orang yang sibuk, tidak begitu peduli dan akrab dengan orang baru. Aku sempat mendegar kalimat ini : “Lu Lu, Gue gue.”

Setelah 2 minggu di Jakarta, Aku bergerak sedikit ke kota Hujan Bogor, yang lebih banyak orang Sunda nya di sana. Begitu lembut, ramah, aku terkagum dengan kelemah lembutan ‘anak lorongnya’. Luar biasa sangat santun.

Malam terakhir di kota Bogor, aku di telepon oleh Ibu Fera, Guru matematika sekaligus Wakil Kepala Sekolah SMK Teluk Hading Leworahang. Beliau mengatakan bahwa di SMK tersebut sedang kekurangan Guru Kejuruan Pertanian.

Tanpa berpikir panjang, ku putuskan untuk kembali dan mengabdikan diri sebagai pendidik di tanah sendiri, daripada merantau sampai sejauh ini. Akhirnya ku tumpangi Bus dari Bogor ke jakarta dan selanjutnya berlayar menuju Flores Timur dengan Kapal laut. Di kota metropolitan ini, aku tidak begitu sulit berpetualang sesuai selerah. Karena ada banyak sanak saudara yang sudah lama hidup di kota besar ini.

Hari jumad malam aku tibah di rumah ku. Sabtu pagi langsung ke rumah Bapak Lorens Kia Kelen, untuk mengantar lamaran pekerjaan. Beliau begitu baik. Guru terbaikku, kepala sekolah yang bijaksana memimpin sejak pertama kali Sekolah pertanian itu didirikan. Banyak ilmu yang beliau bagikan, tentang bagaimana memanusiakan manusia.

Hari Senin pertama dan untuk pertama kalinya aku di sapah Pak guru oleh Siswa/i ku. Pemandangan yang tak pernah terlintas dalam benak ku sebelumnya tentang lembaga pendidikan ini.

Kondisi jalan yang hanya tanah padat ditutupi kerikil kecil dengan aspal yang jarang sekali ditemukan disepanjang jalan itu, sungguh bukan hal yang luar biasa bagi ku. Debuh yang berterbangan ketika roda kendaraan melintas itu hal biasa bagi ku.

dengan langkah sedikit ragu, ku masuki halaman sekolah yang memang tidak datar dengan beberapa batu besar di sekitarnya, duduk diatasnya beberapa Siswi yang menyalamiku dengan penuh ramah. Dari balik rerumputan ku melihat beberapa siswa yang sedang sibuk mengurusi tanaman hortikultura yang mereka tanam sendiri.

Selesai perkenalan dengan teman- teman guruku di ruang guru, Pak Andy seniorku guru kejuruan pertanian, mengajakku untuk memperkenalkan diri dengan Siswa-siswi setelah doa pagi.

Tidak ada yang istimewah juga suasana doanya. Setelah bel dibunyikan sebagai isyarat bahwa doa pagi segera dimulai, aku keluar dari ruang guru, mereka telah berbaris rapi mengambil sikap berdoa.

Untuk pertama kalinya ku rasakan bagaimana menjadi Guguhan dan panutan siswa- siswi. Dan pertama kali pula bagi ku, siswa putera yang tingginya melebihi tinggiku, yang hampir ku sapa kawan, menjabat tanganku kemudian menciumi tanganku. Ku merasa ada yang aneh. Budaya ini yang tidak pernah ku perbuat selama aku masih berstatus Siswa dan mahasiswa.

Sungguh aku sangat dihargai oleh mereka siswa-siswi ku. Hari-hari berlalu, aku bahagia dengan profesiku, dan didukung oleh perilaku siswa-siswi ku yang tak banyak membuat pening kepala.

Aku tahu mereka, ku kenali masing-masing mereka dengan sangat baik. Karakter masing-masing mereka ku jadikan jurus ampuh untuk membimbing, melatih, membina mereka dengan penuh sabar. Aku begitu dihargai oleh mereka. Ketika dalam lingkungan sekolah sapaan ‘Pak’ tak terlupakan oleh mereka. Tapi ketika diluar dari jam sekolah, tak sungkan mereka menyapaku dengan Kakak. Ketika bertemu mereka dimanapun itu tempatnya, pasti mereka mendekat dan menyalami serta mencium tanganku.

Aku sangat bangga dengan perilaku terpuji mereka anak-anak dan sekaligus adik-adik ku.

Empat setengah tahun lamanya ku abdikan diri di lembaga pendidikan itu. Hanya karena tergiur dengan pekerjaan sebagai Pegawai Negeri Sipil, akhirnya kuputuskan untuk mengundurkan diri, dan pergi ke Sumatera tepatnya di Riau untuk mengikuti tes PNS di sana pada tahun 2018.

Orang- orang di Riau juga memperlakukan orang luar dengan sangat ramah. Ada begitu banyak orang FLOBAMORA di sana, yang sudah menjadi pribumi. Ada banyak tempat yang ku datangi dan ku dapatkan keramah tamahan.

Ku jalani tes PNS bersama semua peserta yang datang dari segala penjuru Nusantara. Mereka baik dan ramah. Terbaik adalah saudara seiman ku dari Batak. Orang- orang super baik yang ku kenal. Namun pada hasil ujianku pada waktu itu, belum dapat meloloskanku memakai seragam keki sampai hari ini.

Setelah mengetahui hasil tes ku dan aku dinyatakan belum lulus, ku putuskan untuk bekerja terlebih dahulu pada sebuah perusahaan Pengawasan Lahan kehutanan yang di pimpin oleh putera asli NTT tepatnya dari Maumere. Pikirku, daripada pulang ke kampung halaman dan menjadi pengangguran di sana, sebaiknya aku bekerja mencari nafkah disini.

Namun pada suatu hari, Bapak Yos Watoutan menghubungi melalui Telepon, beliau memintaku untuk menjadi seorang Operator yang mengurusi laporan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS), di lembaga pendidikan yang tak lain adalah Almamaterku SMPK Santo Isidorus Lewotala.

“Siap…” jawabku di ujung percakapan kami. Sungguh hidup sendiri dan terpisah dari Isteri dan anakku yang pada waktu itu berusia 6 bulan, sangat membuat hati tak kuasa menahan rindu. Berbedah dengan waktu itu, ketika aku berada di Jakarta dan Bogor, dengan status bujang, namun tetap merindukan ke dua orang tua.

Tiket pesawat telah ku booking, tujuan Riau Denpasar Bali, Sebelum menuju Maumere. Jam 11 malam aku tibah di Bandara Internasional Ngurah rai Denpasar Bali.

Pulau Dewata, Pulau yang dipenuhi para pelancong dari seluruh penjuru dunia, para pemburuh keindahan yang disuguhkan pulau ini. Malam terasa seperti siang. Tempat- tempat hiburan yang tak bedah dengan negara- negara barat. Sungguh tempat ini pasti menghabiskan isi dompet.

Tiga hari berada di pulau ini, namun terasa hanya sejam. Pantai kuta, tuguh kenangan bom Bali yang menelan banyak korban turis manca negara, yang semua nama mereka terpahat pada tuguh itu, telah ku singgahi. Di kiri dan kanan sepanjang jalan di depan tuguh itu, tempat- tempat hiburan menyuguhkan pemandangan yang pada waktu itu saya ibaratkan dengan malam pesta sambut baru di Lewotala. Penuh sesak manusia yang berjoget ria.

Dari Bali ku lanjutkan perjalananku menuju Maumere dengan pesawat terbang, dan akhirnya ke Lewotala.

Hari pertama masuk di lembaga pendidikan SMPK Santo Isidorus, aku membayangkan suasana Siswa- siswi yang mungkin sama dengan siswa-siswi ku di SMK dulu. Paling kurang mereka tidak kalah bersaing dalam urusan etika, tata krama, dan sopan santun, Karena kita masih dalam satu rumpun Lamaholot – Lewolema.

Aku terus menduga- duga tentang Siswa- siswi sekolah ini. Sekolah yang dari rahimnya aku lahir dan menjadi seperti sekarang ini. Sekolah yang sampai saat ini masih ku banggakan. Kalau bukan dari didikan tangan besi guruku pada waktu itu, mungkin aku tidak bisa sampai mendapatkan gelar sarjana.

Aku bersyukur mendapat rotan, bilah bambu, batang kayu sebesar jempol orang dewasa yang masih membekas di betis, dan gambaran telapak tangan di pipi, bekas kuku di telinga oleh mereka yang kini menjadi rekan- rekan guru ku. Iya, mereka Bapak dan Ibu Guru yang telah menjadikan aku layak di sebut manusia.

Kupijakan kaki pada anak tangga pertama pintu gerbang yang sebenarnya tidak asing lagi bagiku. Di sepanjang lorong depan kelas itu ada banyak sekali anak- anak yang berdiri, bercerita, tertawa lepas tanpa beban, tak sedikit juga yang mengenaliku, karena aku orang Lewotala.

Ku langkahkan kaki terus melewati lorong itu menuju ruang Kepapa Sekolah. Dalam hati ku berharap semoga saja ada yang menyapa atau memberi ucapan selamat pagi pada ku. Tanpa sadar aku sudah di depan pintu ruang Kepala sekolah. Kembali ku berpikir apakah karena saking berharapnya aku di sapah oleh anak- anak ini, hingga aku tak mendengar sedikitpun suara mereka memberi salam padaku?

Langkahku terhenti sejenak di depan pintu ruang kepala sekolah. Aku kembali menoleh melihat ada beberapa anak yang sedang duduk dengan santainya diatas bibir bak penampung air yang dulu pernah ku pakai untuk mengambil air membersihkan lantai ruang kelasku. Pikirku pada saat itu, daripada menunggu mereka memberi salam padaku, sebaiknya aku yang duluan menyalami mereka. “Selamat pagi No Ganteng…” sapahku sambil ku lebarkan senyumku.

Anak laki- laki yang duduk paling ujung, dan lebih dekat padaku saat itu, kebingungan menatapku. Dan itu tergambar jelas dari raut wajahnya. Dengan posisi duduknya yang bebas tanpa aturan duduk yang baik, kaki kiri yang disimpannya diatas bibir bak penampung air tempat ia duduk, sambil lututnya menjadi penopang lengan kirinya, lima detik berselang Ia menjawabku “Selamat Pagi Abang…” dengan nada suara yang sedikit tertawa.

Kini posisinya berbalik jadi aku yang kebingungan. Seribu tanya muncul dalam isi kepalaku seketika itu juga. Ketika berhadapan dengan Kepala sekolah pun, konsentrasiku terbagi. Sebagian rasaku masih terbebani dengan sang jagoan yang tadi menjawabku santai itu.

“Ahhhh… untuk apa juga kupikirkan itu, kan disini tugasku hanya menyelesaikan Laporan Bos, bukan untuk mengajari mereka etika yang baik”. Keputusasaan itu muncul tiba- tiba, karena aku tak mampu lagi berpikir panjang kesana.

Sampai dengan hari ini, kadang aku menikmati sendiri perasaan jengkel dalam hati karena ulah etika anak- anak ini. Kadang ku berpikir, seandainya mereka ini telah ada bersama- sama dengan ku pada tahun 2003 sampai 2005, mungkin sudah menjadi lebih manusia dari yang ini.

Pemandangan ini sungguh jauh berbedah dengan yang ku nikmati di Leworahang. Mereka siswa ku, postur tubuhnya yang yang tinggi tegap melebihiku, namun mereka tahu cara menghargai aku sebagai orang yang lebih tua dari mereka.

Mungkin ini adalah wujud nyata dari peribahasa “Lain Ladang, Lain Belalang”. Kadang marah, kadang ku bentak mereka, karena ribut, kadang karena sikap mereka yang cuek, ketemu di jalan saja, enggan melihat, apalagi menyapa? Apakah cuma aku saja yang merasa seperti ini? Ataukah aku saja yang terlalu banyak menuntut untuk dihargai dan dihormati dengan kapasitasku yang hanya sebagai Tenaga Pendidik?

Anak- anak ku, jika kalian membaca ini, maka baiklah sebagai hadiah dari upaya kalian membaca tulisanku ini, ku titipkan satu buah Puisi untukmu semua.

Puisi ini Belum ku beri judul

Aku bangga pada kalian
Aku bahagia menamai diriku guru
Setidaknya engkau adalah muridku
Setidaknya kalian adalah anak ke duaku

Tetapi...
Adakah kau bangga menjadi bagian dari keluarga besar lembaga ini?
Adakah kau bersyukur bahwa kau diperlakukan dengan sangat baik oleh mereka?
Kau haus ilmu, si tua itu menghapus dahagamu
Busung otakmu lapar akan pengetahuan si tua itu mengenyangkanmu

Sedangkan aku...
Dari tangan keriput itu kini aku bersyukur
Dari derap langkah yang sedikit gemetaran itu kini aku jadi manusia
Yah....Manusia yang lebih manusia

Kau bantah dia
Kau tak mengindahkan nasihat-nasihatnya
Ilmunya kau balas dengan ocehan yang mengiris hatinya
kau jadikan puisiku ini tak berjudul...
Karena aku terbungkam sejuta tanya mengapa

mungkinkah ini masalah waktu?
Mungkinkah ini buah dari moto dirimu 'nakal dulu baru sukses'?

Hei....
Sukses tak butuh nakal
Nakal tak selamanya sukses
Sudahi saja anak-anak ku
Akhiri saja tingkah itu
Jika kuncup bunga pukul sembilan itu dapat mekar tepat pada waktunya
maka baiklah kau pun mekar

Bersemilah hiasi pelataran rumah kita dengan menjadi anak yang baik
Kau mudah
Kau merubah diri
jauh sebelum terlambat

Kisah 3 Remaja yang selamat dari Banjir Bandang

Pagi itu hari Sabtu, 20 Februari 2020. Sang fajar enggan memamerkan cahaya emasnya. Awan gelap menutupi seluruh langit, tak satupun gunung dan bukit yang terlihat, semua tertutup. Gerry mudah terjaga dari tidur pulasnya. Rintik hujan menghantam atap rumah dengan kerasnya. Hawa sejuk pagi itu menusuk jauh kedalam selimut. Setengah menggigil Gerry membuka jendela kamarnya, hujan semalam suntuk menghadirkan lekukan- lekukan kecil di halaman rumahnya, aliran air cokelat mudah membentuk corak yang tak biasa pada tanah di halaman rumah itu.

Dari dapur rumah Ia melihat sang bunda sedang mempersiapkan bekalnya. Seperti biasa, Gerry harus bergegas ke kebun sebelum hama perusak seperti Kera, dan burung hutan itu merusak tanaman Padi, jagung, dan sayurannya. Setelah selesai mempersiapkan semua perlengkapan dan bekalnya, berangkatlah Ia ditemani Vildi sang adik dan Yudin sahabat karib Gerry.

Vildi yang pada hari itu tidak bersekolah, karena wabah virus Corona yang mengharuskan mereka belajar dari rumah. Vildi adalah seorang siswa kelas VIII SMP. Ia tak kehilangan akal, disimpannya juga buku- buku pelajaran miliknya ke dalam tas sekolahnya, Ia bermaksud belajar di pondok sederhana dalam kebun mereka.

Guyuran hujan yang tak kunjung reda bukan pengahalang yang menghentikan langkah ke tiga remaja ini, berjalan menuju kebun mereka. Dengan ponco sederhana yang sedikit kusut, mereka melangkah tiada gentar menyusuri jalan setapak menuju kebun.

Dari pinggir kebun, mereka disambut tanaman padi setinggi lutut orang dewasa, jagung yang sudah mengeluarkan bunga, sedikit melambai di sapu angin. Suasana alam pegunungan nan damai. kicauan burung pipit sesekali terdengar diselah hujan dan angin. Kabut putih tipis bertebaran dari gunung hingga ke lokasi kebun itu. Semua terlihat seperti telaga kapas putih.

Yudin langsung berinisiatif menghidupkan api di tungku dalam pondok itu. Seolah tak ingin udara dingin pagi itu berlama- lama menguasai tubuh mereka. Sedangkan  Gerry langsung mengecek keadaan tanaman di seluruh bagian kebun. Aliran banjir pada kali di sebelah pondok mereka, terlihat wajar seperti biasanya ketika hujan.

Siang itu mereka menghabiskan waktu untuk bercerita, dan bersantai di pondok sambil mengawasi sekeliling kebunnya. Sedangkan Vildi sesekali membuka buku pelajaran miliknya. Saat jam makan tibah, mereka tidak begitu kerepotan mencari lauk untuk disantap. Jamur hutan, pucuk daun Labu, bunga Labu, tersedia di dalam kebun.

Jam 3 lewat, hujan semakin deras mengguyuri seluruh wilayah. Ditemani kopi hangat soreh itu, sesekali mereka dikejutkan dengan gemuru Guntur yang menggelegar. Sambaran petir dan Guntur silih berganti mengusik mereka. Senja yang mencekam, mereka memutuskan untuk bermalam saja di pondok, setelah menghubungi orangtuanya melalui telepon genggam.

Selesai makan malam, mereka bersenda gurau di sekitar perapian. Tak terlintas sedikitpun dalam benak mereka tentang bencana apapun yang akan terjadi jika hujan tak kunjung redah. Sesekali tawa lepas tercipta kala Gerry menceritakan cerita- cerita lucu. Sedangkan diluar aliran air banjir terdengar semakin menderu tak biasa.

Sekitar jam 7 lewat, ditengah guyuran hujan, terdengar oleh mereka gemuru dari sebelah atas kebun itu. Sempat terpikirkan oleh mereka bertiga mungkin itu adalah bunyi pesawat terbang yang lewat, karena suara itu tidak terdengar seperti gemuru guntur biasa.

Semakin lama suara gemuru itu semakin mendekat ke arah pondok tempat mereka berteduh. Karena penasaran, akhirnya mereka bertiga memutuskana untuk keluar dari pondok, dan melihat apa yang terjadi di luar sana.

Dari depan pondok, mereka sempat melihat aliran material longsor dan batang pohon yang berlomba turun menuju pondok mereka. Beruntung karena beberapa kali cahaya petir menghalau kepekatan malam itu, hingga mereka dapat melihat dengan jelas semua material longsor. Dan beruntung pula, karena ketika musibah itu datang, mereka belum terlelap dalam tidur malam itu.

“Lari…!” teriak Dery memberi aba-aba pada adik dan temannya. Ditengah hujan, tanpa lampu senter atau sumber cahaya lain, berlarilah mereka secepat mungkin menuju ke bagian barat dari kebun itu, menuju Waitiu.

“Terus berlari dan jangan terpencar…” Gerry mengingatkan sang adik dan temannya.

Tak mereka hiraukan lagi alat- alat yang ada dalam pondok itu. Berlari dan terus berlari menghindari sejauh mungkin longsoran tersebut. Ditengah perjalanan mereka bertemu dengan Eman Liwun, seorang warga Desa Bantala yang pada saat itu baru pulang dari kebunnya di sebuah lokasi yang disebut Ma-Ora, yang letaknya di sebelah Timur Ile Padung.

Mereka bertiga lalu mengatakan ada longsor dan banjir bandang yang sangat deras, dan akhirnya mereka berempat berlari menuju waitiu.

Dery Hokor kehilangan 4 ekor Anjing peliharaannya, 2 senapan angin yang ia pakai untuk memburu hama tanaman padi dan jagung di kebunnya, serta peralatan makan-minum mereka di pondok itu. Sedangkan Eman liwun, terpisah dengan seekor Anjing yang menemaninya pulang dari kebun tadi.

Sungguh, Rera- Wula Tanah- ekan masih tetap menjaga mereka, dan menyelamatkan mereka dari musibah tersebut. Hingga mereka tibah dengan selamat didekat dusun waitiu.

Langkah gemetar tak terhenti, berlari- lari kecil sedikit menoleh kebelakang bermaksud mengawasi keadaan apapun yang bisa saja terjdi tanpa mereka sadari.

Beruntung ketika mereka tiba di jalan raya yang menghubungkan Dusun Waitiu dan Desa Lewotala, ada mobil bak terbuka milik warga Lewotala yang sempat melintas menuju lewotala. Tanpa berpikir panjang mereka menghentikan mobil itu, dan menumpanglah mereka menuju Lewotala. Dalam perjalanan Gerry, Vildi, dan Yudin menceritakan kejadian yang mereka alami di kebun mereka barusan kepada Eman dan sang supir.

Dalam perjalanan memasuki kilo meter 2 dari Waitiu, laju mobil sempat terhenti oleh tumpukan material longsor tadi. Pelan tapi pasti mobil terus bergerak melewatinya, menghantar mereka kembali ke rumah mereka masing- masing.

Malam itu dirumah Gerry, tidak ada cerita lain selain cerita kejadian yang mereka alami di kebun. Sesekali orangtua mereka dengan mata berkaca-kaca, mengucap syukur karena mereka selamat dari terjangan material longsor yang melaju cepat serta memporak-porandakan kebun dan membongkar kemudian menghanyutkan puing- puing pondok mereka.

Keesokan harinya, seisi rumah beranjak menuju kebun dan melihat kondisi kebun itu. Pemandangan yang tak biasa. Akses jalan setapak memasuki kebun tak dikenali lagi. Jalan setapak itu telah berubah. Lengkungan kali yang lebar dan dalam, dibibir kali tumpukan lumpur lembab yang tak boleh dipijak sesuka hati. Salah menempatkan telapak kaki, itu sama saja dengan mengubur setengah badan kita. Yah, ketebalan lumpur sampai mendekati 2 meter.

Semua anggota keluarga Gerry terdiam ketika memasuki areal kebun mereka. Setengah bagian lebih kebun itu hilang, tergantikan lembah baru. Sekali lagi wajah sang bunda memerah matanya berkaca- kaca membayangkan segala hal buruk yang bisa saja merenggut nyawa ke dua buah hatinya. Baginya, kebun beserta isinya tak ternilai dengan sosok dua anaknya yang tekun membantu Ayah mereka mengurusi kebun itu.

Hamparan awan putih tipis enggan terhapus oleh banjir bandang semalam. namun masih setia menghiasi seluruh areal perkebunan. Kicauan burung bersahutan terdengar sumbang di telinga. Alam yang tadinya bersahaja, berubah menjadi ganas, laksana ular hijau yang siap mematuk sang pengusik. Tak ada yang dapat disalahkan atas peristiwa ini.

Di lereng sebelah utara kebun itu berdiri beberapa tanaman pangan, tak lebih dari 50 meter persegi. Kendati demikian puji dan syukur tetap terucap dari bibir mereka. Tanaman pangan boleh hilang tergerus aliran banjir bandang, asalkan anak- anak mereka selamat dari tragedi malam minggu itu. Malam yang harusnya menjadi malam panjang bagi kaum mudah.

Pemuda Desa Setempat dengan alat seadanya membersihkan Material Banjir bandang

Hujan pertengahan Februari, seakan tak jenuh mengguyuri Lewotanah ini. Ibarat ada dendam yang sekian lama terpendam pada kemarau tahun lalu, dan mungkin ingin rumput tanah ini kembali hijau, serta tanaman pangan warga tak kekurangan air. Empat hari tak henti, tak lebih dari 30 menit jedah, Ia kembali turun dengan lebatnya. Hingga pada hari Sabtu, 3 jam tanpa jedah hujan mengguyuri wilayah desa.

Sabtu malam yang begitu riuh dengan guyuran hujan, hingga tak satupun suara binatang malam yang terdengar. Dari gunung, gemuru terdengar, kian lama kian mendekat ke pemukiman warga dusun Waitiu-Lewotala. Mungkinkah itu gemuru guntur? Semua warga dusun itu panik dan bertanya-tanya.

Kepanikan warga semakin menjadi, karena luapan banjir malam minggu itu, tidak seperti biasanya. Apalagi letak dusun Waitiu sendiri yang berpapasan langsung dengan gunung Kedeka’, lokasi gemuru itu berasal. Selain itu, ada sekitar tiga sampai empat lembah besar yang bermuara langsung ke dusun ini.

Hingga akhirnya warga memutuskan untuk mengungsi dan berkumpul di Kapela Biara redemptoris Waitiu. Berita tentang kepanikan dan inisiatif warga untuk mengungsi inipun terdengar hingga ke telinga pemuda setempat, melalui media sosial.

Pemuda setempat itu adalah Laskar71 (Laskar SI-DO) Desa Bantala-Lewotala. tanpa berpikir panjang, karena dibenak mereka, ini adalah urusan kemanusiaan. Tentang keselamatan sesama mereka di dusun Waitiu.

Dua orang angotanya berinisiatif untuk pergi ke dusun Waitiu, dan melihat dari dekat siapa tahu ada warga yang membutuhkan pertolongan.

Guyuran hujan yang masih belum redah tak menyurutkan niat mereka untuk meninjau sanak saudaranya di dusun tersebut. Maka berangkatlah mereka dengan menggunakan sepeda motor, karena jarak Lewotala ke dusun waitiu, kurang lebih 4 kilo meter jauhnya.

Memasuki jarak tempuh 1 Km dari Lewotala, mereka dihadang tumpukan batu dan material lain yg terbawah oleh aliran air banjir. Di lokasi ini, tumpukan batu dan material lainnya tidak begitu sulit untuk dilewati. Teruslah mereka beranjak pergi dari lokasi itu.

Tak jauh dari lokasi pertama, tibalah mereka di lokasi ke dua. Di lokasi ini, tumpukan material banjir bandang sungguh menantang. Hanya ada dua pilihan, mau lanjut ke waitiu atau berhenti dan pulang.

Dengan bermodalkan lampu sepeda motor, dan lampu dari Telepon genggam milik mereka berdua, serta medan yang sulit dilewati hanya berdua akhirnya mereka memutuskan untuk kembali pulang saja. Paling kurang jawaban atas penasaran warga dusun Waitiu tentang suara gemuru digunung tadi telah mereka ketahui.

Sesampainya mereka di Lewotala, merekapun mengabari teman2nya di Waitiu, bahwa gemuru itu ternyata adalah banjir bandang yang membawa material longsor dari gunung, namun lokasi yang terdampak jauh dari pemukiman warga. Kepanikan wargapun berkurang seketika itu.

Kedua orang mudah ini berinisiatif untuk menggerakan teman-temannya yang terhimpun dalam organisasi kepemudaan Laskar71 Bantala, untuk mebersihkan material banjir bandang dikeesokan harinya. Mereka berdua adalah Wakil Ketua Laskar71 Nelson Sogen, dan Salah satu anggota Laskar71 seorang guru Denys Liwun.

Malam itu, percakapan demi percakapan berlangsung alot dalam media sosial yang menjadi forum mereka berbagi dan berdiskusi. Akhirnya disepakatilah sebuah point penting, yaitu mengadakan kerja bakti pada hari Minggu pagi.

Pagi- pagi sekali, sekitar pukul 06.30 WITA Pasukan Laskar71 dibawah Komando Komdannya Jefry Tukan, dan KASAT Lingkungan Hidup Stiwen Liwun, beranjaklah mereka menuju lokasi terparah dari banjir bandang pada Kilometer 2 dari Waitiu.

Dengan peralatan seadanya seperti cangkul dan sekop, mulailah mereka membersihkan lokasi tersebut. Tujuan mereka hanya satu, yaitu agar arus transportasi dari Larantuka ke Kecamatan Lewolema (sebaliknya) khususnya Desa Bantala kembali normal, tanpa ada hambatan.

Sungguh semangat dan jiwa Laskarnya begitu bergelora dalam bekerja. Saya menyaksikan sendiri. Terhitung sejak pukul 06.30 sampai pukul 11.30 siang, jalan raya yang terdampak banjir, kembali seperti sediakala, meskipun masih menyisahkan lumpur yang sulit dibersihkan, dan akan hilang jika tersiram air hujan.

Bisa dibayangkan, ketebalan tumpukan material banjir (tanah, pasir dan kerikil) yang bervariasi sampai setinggi 15 cm, yang tersebar sejauh 50 meter lebih. dibersihkan hanya dalam waktu kurang lebih 5 jam, dengan cangkul dan sekop.

Ditengah sibuk membersihkan badan jalan, ada seorang Pria parubaya, yang datang ke lokasi, dan berbincang dengan beberapa orang tua yang sedang sibuk mengumpulkan batu. Saya sengaja menguping obrolan itu. Di akhir percakapan mereka, pria parubaya bersepeda motor itu, memutar kendaraannya, sambil berpesan, “Saya minta alat berat untuk membantu membersihkan jalan ini”. Namun tak kunjung datang sampai detik ini.

Saya bangga menjadi bagian dari organisasi ini, yang dipercayakan sebagai penasihat mereka. Mereka adalah anak mudah yang tidak pake nego dalam membantu sesamanya. Dimata Saya, mereka adalah bukti nyata dari kata Gemohing.

Ketika menyelesaikan suatu pekerjaan dan nama mereka luput dari kata terima kasih, tak masalah bagi mereka. Karena semboyan mereka, Rera-wulan tanah-ekan, tak pernah tutup mata.

Terus pupuk hal-hal baik dalam organisasi Laskar71. Jangan surut dalam berbagi kebaikan. Salam kompak selalu.

Kisah 3 anak mudah yang lolos dari Selamat dari Banjir bandang dan Warga yang perkebunannya terdampak

Banjir bandang di malam minggu itu berawal dari tanah longsor, di puncak lembah Nunuk, gunung kedeka’ Lewotala. Terdapat dua tempat terjadinya longsor. Maka tak heran jika materialnya begitu banyak, dan merugikan beberapa warga, karena tanaman pangan seperti padi, jagung, dan sayur- sayuran, tanaman perkebunan seperti pisang, kelapa, jambu mete, Jati, dan lain sebagainya, serta terbentukanya lekukan kali yang semakin lebar dalam kebun milik warga.

Saya sekali lagi menyempatkan diri untuk melihat lebih dekat kondisi kebun warga Lewotala yang terdampak.

Lokasi Paling parah pertama adalah lokasi kebun milik Bapak Petrus Hokor, yang dekat dengan lokasi longsor. Padi dan jagung miliknya yang berada tepat di lembah yang dilalui banjir bandang habis tergerus. Namun sempat menyisahkan beberapa meter persegi dari lahan yang ditanami padi dan jagung di lereng sebelah utara kebunnya.

Ada kisah yang nyaris merenggut nyawa 2 orang anak Bapak Petrus Hokor dan seorang teman anak sulungnya pada malam minggu itu, ketika terjadi longsor.

Saya sempat mendengar kesaksian anak sulungnya Dery Hokor menuturkan, pada malam itu Ia bersama adiknya Ien Hokor yang masih sekolah di SMPK St. Isidorus Lewotala kelas VIII, dan seorang temannya Yudin Hurit. Mereka bertiga pada malam itu, bermalam dikebun.

Sekitar jam 7 lewat, ditengah guyuran hujan, mereka mendengar gemuru dari sebelah atas kebun mereka. Sempat terpikirkan oleh mereka bertiga mungkin itu adalah bunyi pesawat terbang yang lewat.

Semakin lama suara gemuru itu semakin mendekat ke arah pondok tempat mereka berteduh. Karena penasaran, akhirnya mereka bertiga memutuskana untuk keluar dari pondok, dan melihat apa yang terjadi di luar sana.

Dari depan pondok, mereka sempat melihat aliran material longsor dan batang pohon yang berlomba turun menuju pondok mereka.

“Lari…!” teriak Dery memberi aba-aba pada adik dan temannya. Ditengah hujan, tanpa lampu senter atau sumber cahaya lain, berlarilah mereka secepat mungkin menuju ke bagian barat dari kebun itu, menuju Waitiu.

Tak mereka hiraukan lagi alat- alat yang ada dalam pondok itu. Berlari dan terus berlari menghindari sejauh mungkin longsoran tersebut. Ditengah perjalanan mereka bertemu dengan Eman Liwun, seorang warga Desa Bantala yang pada saat itu baru pulang dari kebunnya di sebuah lokasi yang disebut Ma-Ora, yang letaknya di sebelah Timur Ile Padung.

Mereka bertiga lalu mengatakan ada longsor dan banjir bandang yang sangat deras, dan akhirnya mereka berempat berlari menuju waitiu.

Dery Hokor kehilangan 4 ekor Anjing peliharaannya, 2 senapan angin yang ia pakai untuk memburu hama tanaman padi dan jagung di kebunnya, serta peralatan makan-minum mereka di pondok itu. Sedangkan Eman liwun, terpisah dengan seekor Anjing yang menemaninya pulang dari kebun tadi.

Sungguh, Rera- Wula Tanah- ekan masih tetap menjaga mereka, dan menyelamatkan mereka dari musibah tersebut. Hingga mereka tibah dengan selamat didekat dusun waitiu.

Lokasi yang terkena dampak berikutnya adalah kebun milik Bapak Yosep Sogen, dan Niko Liwun. Akibat banjir bandang tersebut, tanaman Jati mereka yang berdiri tepat di jalur banjir hanyut dan sebagian terkubur dalan lumpur.

Pipa air minum dari mata air Wai’ Luka menuju Lewotala pun hilang beberapa batang. Ketersediaan air minum bersih warga Lewotala secara langsung terganggu.

Dalam perjalanan menyusuri jalur banjir, Saya sempat bertemu dengan Bapak Mus Wela Hurit, beliau mengatakan bahwa ini Banjir ke dua terparah, Dan pada Tahun 1976 adalah pertama kalinya kebunnya dilalui banjir serupa.

Saya beranjak maju lagi, dan bertemu dengan Kakak yang Saya banggakan, Pak Sil Hurit. Ternyata kebun miliknya juga terkena dampak dari Banjir ini. Puluhan pohon Jambu Mete dan kelapa hilang tertimbun lumpur.

Pak Sil menuturkan bahwa di sebelah atas dari kebunnya itu adalah kebun Bapak Suba Sogen. Katanya tanaman pangan milik Bapak Suba begitu subur. Namun pada saat itu, Saya tidak melihat apa-apa, selain tumpukan lumpur setinggi lebih dari 3 meter dari dasar lembah tempat kami berdiri.

Sebenarnya masih banyak kebun milik warga yang tertimbun lumpur dan tumpukan batu. Namun hanya beberapa warga inilah yang sempat Saya temui di lokasi.

Sepertinya pasca kejadian malam minggu itu, semua menjadi biasa-biasa saja. Adakah berita banjir dan tanah longsor yang merugikan warga ini telah terdengar di kampung sebelah?

Sumber : Tala Lewolema

Cara mudah mengubah ukuran gambar/ dokumen ukuran dibawah 1000 kb, dan mengkonversi gambar dari jpg ke pdf

Ubah ukuran dan konversi gambar dengan Photoshop

Dijaman yang semakin maju seperti sekarang ini, banyak aplikasi yang memanjakan kita, agar dengan mudah melakukan segala sesuatu secara mandiri. Salah satu aplikasi tersebut adalah Adobe Photoshop.

Dengan menggunakan Adobe Photoshop, kita dapat dengan mudah melakukan segala urusan design grafis, atau hanya sekedar mengedit gambar atau foto.

Selain itu, untuk mengubah ukuran gambar dan mengkonversi atau mengubah jenis file (dokumen) pun sangat mudah dilakukan dengan aplikasi ini.

Seorang pencari kerja, yang ketika ingin mendaftar pada sebuah perusahaan atau kantor dengan cara pendaftaran online, mungkin tidak lepas dari urusan mengupload dokumen pribadinya.

Biasanya form untuk mendaftarkan diri pada sebuah link, menyuguhkan beberapa kolom yang harus diisi. Misalnya, Nama, Alamat, Tempat tanggal lahir, Upload ijazah, upload KTP, dan lain sebagainya.

Jika kita sering mengikuti proses registrasi online misalnya calon PNS, tentunya tidak akan merasa asing dengan format tersebut. Kadangkala, di kolom upload ijazah terdapat tulisan “upload file dengan format pdf, dan ukuran file kurang dari 1000 kb“.

Apabila format file dan ukuran file yang hendak diupload tidak sesuai dengan standar tersebut, maka kita akan gagal untuk mengupload file kita.

Oleh karena itu, pada video youtube tersebut di atas, Saya memberikan tips agar kita dengan mudah melakukan kegiatan registrasi online, ataupun urusan lainnya.

Silahkan disimak videonya, dan jangan lupa, like, subscribe, dan share. Semoga bermanfaat.

Kakak Urbanus Tukan : “Prinsip Saya, sekali langsung banyak itu Saya tidak Bisa, jadi Saya Save Sedikit setiap bulannya”

Mari Memulai.

Mungkin Rekan – rekan Alumni Pernah membaca Pos Blog Saya sebelumnya, dimana Saya merincikan Nominal sumbangan Alumni SMPS st. Isidorus Lewotala, yang ditentukan sesuai dengan kriteria Pekerjaan atau Profesi kita masing – masing. Mungkin bagi kebanyakan kita, termasuk Saya, merasa cukup berat. Namun, jika kita menyisihkan 100-200 ribu per bulan ke rekening Panitia, jauh terasa lebih ringan. Asalkan Slipnya tetap menjadi arsip pribadi kita, dan juga bisa dikirim ke panitia, agar saat pelaporannya nanti, menjadi terarah dengan baik.

Terhitung sejak hari pembentukan Panitia Emas 50 Tehun SMPS st. isidorus Lewotala, sampai sekarang, dana yang terhimpun dari Para Alumni, belum Mencapai angka 2 juta. Sebagai dana awal, segenap panitia Emas, telah berkontribusi dengan menyumbang Rp 100.000/ orang (namun belum semua terhimpun).

Dana awal yang terhimpun ini, dipergunakan untuk membuka Rekening Bank, agar memudahkan penghimpunan dana dari Seluruh alumni yang kini tersebar di seluruh wilayah Indonesia, dan Bahkan sampai ke Luar Negeri. (Nomor Rekeningnya Bisa dilihat pada Mini Proposal di Blog ini).

Sabtu, 02 November 2019, Kakak Urbanus Tukan (Alumni sekaligus mantan Pendidik) menghubungi kami, dan Beliau telah memulainya. Sebagai Alumni yang saat ini berdomisili di luar Desa Bantala, beliau menyampaikan bahwa akan menyicil sedikit demi sedikit setiap bulannya. “Prinsip Saya, Sekali langsung banyak itu Saya tidak bisa, jadi Saya save Sedikit setiap Bulannya.” Kata Kakak Urbanus kepada saya via Messanger. Beliau sudah memulai. Atas Nama seluruh anggota Panitia dan Pelindung/ Penasihat panitia, Saya sampaikan terima kasih, untuk Kakak Urbanus Tukan.

jedah waktu sampai hari H, kegiatan Akbar ini, tidak lama lagi. Dan mungkin beberapa kegiatan sudah seharusnya mulai dilaksanakan. Namun panitia masih belum bisa memulai kegiatan, kendala utamanya ada pada dana.

Beliau sudah memulai. Sengaja Saya sampaikan di blog ini, supaya bisa menjadi perangsang bagi Bapak/ Ibu, Saudara dan Saudari, untuk bisa memulainya juga. Dana yang Bapak/ Ibu, Saudara dan Saudari kumpulkan, peruntukannya jelas ada di Mini brosur ini.

Harapan Saya, setelah membaca Mini Brosur tersebut, kita bisa saling memberikan masukan, kritik dan Saran, tentang rancangan yang kami buat. Atau ide – ide baru tentang kegiatan akbar ini, silahkan Bapak/ Ibu Saudara dan Sadari sampaikan, agar menjadi bahan pertimbangan Panitia.

Mari Memulai, dan terus bergerak, demi Almamater dan demi pendidikan anak – cucu kita kelak. Salam Hormat.

By: Con Hokor Pati

Persiapan Penataan Wajah SMP st. Isidorus

Anggota Panitia Pesta Emas SMP st. Isidorus Lewotala, menggelar Rapat siang ini, di Aula SMP St. Isidorus Lewotala (sabtu 3/8).

Hal – hal yang dibicarakan dalam rapat tersebut adalah persiapan penataan wajah sekolah. Rapat yang berlangsung selama kurang lebih 2 jam tersebut, dihadiri 15 orang Anggota panitia. “Selama beberapa kali pertemuan panitia Emas ini digelar, anggota panitia yang hadir memenuhi undangan, tidak lebih dari 20 orang. Sedangkan jumlah anggota panitia sendiri mencapai 80 orang” kata Pak Ketua Panitia diawal pertemuan.

Adapun rencana penataan wajah sekolah yang dimaksud adalah penggusuran halaman depan sekolah, termasuk Mes Guru, halaman belakang, dan tempat upacara atau halaman dalam sekolah.

Rencana penggusuran Mes Guru ini dimaksudkan agar akan dibangun kembali Mes Guru yang baru dibagian belakang sekolah, yang berdekatan dengan Pastoran Paroki Lewotala. Itu adalah maksud dari penataan wajah sekolah.

Ketua panitia juga menghimbau kepada seluruh peserta rapat yang sempat hadir, agar peserta yang hadir dapat menyampaikan kepada seluruh rekan anggota panitia yang tidak sempat hadir, tentang tanggungan dana awal dari setiap anggota panitia yaitu sebesar Rp 100.000 perorang.

Plafon anggaran yang harus dipersiapkan dalam kegiatan akbar ini adalah sekitar Rp 400.000.000,-

Dana sebesar ini tidak hanya semata – mata diperuntukan pada acara pesta meriah rayakan HUT almamater ini saja, namun jauh lebih bermanfaat untuk pembangunan fisik almamater ini.

Pembangunan fisik yang sempat dirancang oleh panitia diantaranya : penataan wajah sekolah, pengadaan media pembelajaran berupa komputer, server, pembangunan pagar sekolah, pendopo sekolah, dan patung St. Isidorus.

“jika hanya pesta yang meriah, itu sudah biasa. Tapi sebagai alumni yang dibesarkan oleh lembaga pendidikan ini, apa yang mau kita sumbangkan untuknya, pada usianya yang ke 50 tahun ini adalah hal yang luar biasa.” pesan penutup yang disampaikan oleh pak Ketua panitia.

Bagi rekan – rekan alumni SMP St. Isidorus yg hendak memberikan sumbangan untuk menyukseskan kegiatan ini, dapat memberikan sumbagannya melalui Rekening Panitia Emas SMPK Santo Isidorus Lewotala nomor : 3492-01-044329-53-3.

Sebagai patokan, bagi alumni ditentukan besaran sumbangan sesuai dengan tingkat pekerjaan atau pendapatan kita.

PNS dan Biarawan/i Rp 1,5 juta

Pegawai swasta termasuk guru Rp 1 juta

Pegawai honor tidak tetap Rp 500.000

Petani dll Rp 250.000.

Pelajar dan mahasiswa bebas menyumbang.

Namun jika ada yang mempunyai rejeki lebih, dan memberikan lebih dari yang ditentukan tidak dibatasi.

Logo Panitia Emas

Penjelasan tentang Logo :
  • Bintang Emas,  berjumlah 50 melambangkan 50 tahun usia SMPS St.  Isidorus Lewotala
  • Warna Emas,  melambangkan ketulusan,  dan kemuliaan.
  • Gambar Santu Isidorus,  sang pelindung Petani,  melambangkan perlindungan bagi seluruh orang tua wali murid SMPS st.  Isidorus yang pada umumnya adalah petani
  • Warna Biru pada tulisan 50 tahun, melambangkan kesuburan
  • Warna Jingga pada tulisan PANITIA EMAS,  melambangkan usia sekolah yang bukan mudah lagi
  • Rapat Perdana Panitia Emas 16 Februari 2019

    Sebelumnya sekpan menerbitkan undangan sebanyak 75, dan diberikan kepada semua anggota panitia, namun yang menyempatkan diri hadir sekitar 20 orang.

    Dalam rapat perdana yang dipimpin oleh Bapak ketua panitia (Fransiskus Reo Liwun) tersebut, rencananya membahas 3 agenda, yaitu dengar pendapat anggota panitia emas, penyusunan draft rancangan, serta pembahasan rancangan kerja panitia. Akan tetapi, hanya dua agenda yang dibahas, dan tersisah satu agenda yaitu pembahasan rancangan kerja panitia, yang masih dipending, dan akan dibahas nanti pada hari Minggu, 3 Maret 2019.

    Dalam rapat perdana ini pula, ditentukan Koordinator alumni per daerah di seluruh indonesia dan di luar negeri seperti di Malaysia. Nama – Nama Alumni yang merupakan koordinator wilayah yang masih merupakan rancangan ini adalah sebagai berikut :

    1. Bandung : Bapak Philipus Geken Tukan
    2. Jakarta : Bapak Hermanus Ehe Hurit
    3. Semarang : Bapak Leonardus Lapon Tukan
    4. Jogja : Bapak Hendrikus Hide Tukan
    5. Bali : Bapak Lorensius Ledun Sogen
    6. pangkal Pinang : Rm. Norbertus Nuho Tukan
    7. Papua New Guinea : Pater Paul Liwun
    8. Irian : Bapak Stefanus Ratu Ritan
    9. Manado : Bapak Bernadus Lamanepa
    10. Malaysia : Hermanus Lawe Hokor
    11. Tanjung selor : Bapak Yoti Tukan
    12. Kupang : Bapak Urbanus Suban Tukan
    13. Alor : Bapak Adrianus Leu Hurit
    14. Lembata : Bapak Frans Seng Tukan dan Bapak Ignas Piran
    15. Sumba : Sr. Marsella Hokor
    16. Manggarai : Pater Simon Suban Tukan
    17. Bajawa : Bapak Siprianus Teluang Tukan
    18. Ende : Pater Stef Sabon Aran
    19. Maumere : Bruder Yonas Bai Tukan
    20. Adonara : Bapak Ignasius Hali Sogen
    21. Solor : Ibu Martina Ubu Wekin

    Dari nama – nama yang sempat direkam oleh panitia pada malam ini, diharapkan mampu mengkoordinir para alumni SMPS ST. isidorus di sekitar daerahnya berdomisili. Dan apabila sempat membaca postingan ini, maka sangat di harapkan, agar dapat menghubungi panitia.

    Rancangan kegiatan yang sementara disepakati dalam rapat adalah sebagai berikut:

    1. Pendataan Para mantan Kepala Sekolah, dan menghubungi keluarganya untuk bisa dimintai fotonya, agar bisa di simpan di lembaga pendidikan SMPS St. Isidorus Lewotala
    2. Pendataan Para Alumni Per angkatan, serta mencari informasi keberadaan para alumni tersebut.
    3. Pendataan Para mantan Ketua Badan Penyelenggara SMPS ST. isidorus Lewotala
    4. Penataan halaman tempat Upacara bendera, dan halaman depan pintu gerbang sekolah
    5. Pembangunan patung Santu Isidorus
    6. Pengadaan Sarana pendukung Ujian Nasional Berbasis Komputer, berupa 30 unit komputet
    7. Pembangunan Pendopo Sekolah
    8. Pembangunan Gelanggang olahraga, di sebelah pintu gerbang sekolah
    9. Pengadaan sarana Musik termasuk Drumband, Gitar, amgklung, dll
    10. Mengadakan turnamen voley dan bola kaki, antar Siswa Sekolah Dasar di kecamatan Lewolema, antar siswa SMP di Kecamatan Lewolema, dan antar OMK di Kecamatan lewolema, dalam rangka meriahrayakan pesta emas ini
    11. Seminar Ilmia bagi Alumni
    12. Konser Musik (kelompok musik Difabel)
    13. Pentas budaya
    14. Perayaan puncak, luturgi ekaristi
    15. Resepsi bersama
    16. Usaha Dana, diharapkan kontribusi alumni, disesuaikan dengan pendapatannya.

    Beberapa hal tersebut merupakan gambaran umum tentang rancangan kegiatan yang nantinya dirancang oleh masing – masing Seksi.

    Agar seluruh alumni bisa hadir dalam pesta emas ini, maka disimpulkan bahwa, acara puncak pesta emas ini terjadi pada musim libur.

    Hanya garis besarnya saja yang sempat kami sampaikan, apabila membutuhkan informasi lebih lanjut silahkan hubungi panitia.

    Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
    Mulai